DOLLAR PTR

dollarptr.com

Anda ingin punya akun PayPal ? Daftar disini.

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

Selasa, 21 Juni 2011

Tentang FOReign EXchange ( FOREX ) Trading

Saat pertama kali mengenal kata forex pasti sebagian dari anda atau mungkin semuanya tidak tahu apa itu forex, bagaimana cara kerja forex dan bagaimana transaksi di forex itu sendiri. Nah sekarang ini saya akan memberikan sedikit penjelasan tentang forex kepada anda yang baru akan atau hendak mengetahui forex lebih dalam lagi. untuk sukses forex anda harus mengetahui dahulu selak beluk dari forex itu sendiri. Berikut ini adalah beberapa penjelasan penting mengenai forex untuk pemula.
Perkembangan Forex/ sejarah forex
Forex (foreign exchange) atau Valas merupakan suatu jenis perdagangan atau transaksi yang memperdagangkan mata uang suatu negara terhadap mata uang negara lainnya (pasangan mata uang / pair) yang melibatkan pasar-pasar uang utama di dunia selama 24 jam secara berkesinambungan.
Pergerakan pasar valuta asing berputar mulai dari pasar Selandia Baru dan Australia yang berlangsung pukul 05.00–14.00 WIB, terus ke pasar Asia yaitu Jepang, Singapura, dan Hongkong yang berlangsung pukul 07.00–16.00 WIB, ke pasar Eropa yaitu Jerman dan Inggris yang berlangsung pukul 13.00–22.00 WIB, sampai ke pasar Amerika Serikat yang berlangsung pukul 20.30–10.30 WIB. Dalam perkembangan sejarahnya, bank sentral milik negara-negara dengan cadangan mata uang asing yang terbesar sekalipun dapat dikalahkan oleh kekuatan pasar valuta asing yang bebas.
Menurut survei BIS (Bank International for Settlement – bank sentral dunia), yang dilakukan pada akhir tahun 2004, nilai transaksi pasar valuta asing mencapai lebih dari USD$1,4 triliun per harinya. Dengan demikian, prospek investasi di perdagangan valuta asing adalah sangat bagus sekaligus beresiko tinggi.
Mengingat tingkat likuiditas dan percepatan pergerakan harga yang tinggi tersebut, valuta asing juga telah menjadi alternatif yang paling populer karena ROI (return on investment atau kembalinya nilai investasi yang telah kita tanam) serta profit yang akan didapat bisa melebihi rata-rata perdagangan pada umumnya (biasanya rata-rata return berkisar lebih dari 5% – 10% per bulannya, bahkan bisa mencapai lebih dari 100% per bulannya untuk profesional trader). Akibat pergerakan yang cepat tersebut, maka valuta asing juga beresiko tinggi apabila anda tidak mempunyai pengetahuan yang cukup serta pengaturan manajemen keuangan dengan baik.
Perbedaan pasar forex traditional dan pasar forex modern/online
Untuk pasar forex traditional level uang yang dipakai adalah 1:1, atau berarti untuk bertrading senilai $100 anda memerlukan uang $100, atau berarti untuk melakukan pasar traditional bisa dikatakan perlu modal yang besar, umumnya perdagangan traditional dilakukan secara offline di pasar-pasar FOREX.
Sedangkan pasar modern dalam perdagangannya menggunakan level dan margin, perdangangannya pun menggunakan media online. jadi misalnya dengan modal $100 kita bisa trading senilai $10000 atau 100 kali lipat.
Level dan margin
Level dalam pasar FOREX modern seperti contoh nya 1:100, atau artinya untuk memperdagangkan $100 modal yang perlu dipakai hanya 1:100 nya saja, atau $1 saja. Nilai $1 itu lah juga yang disebutkan dengan margin (atau disebut juga deposit untuk pembelian quantity $100).
Bagaimana mungkin $1 bisa untuk membeli $100 ??
Ya, karena sebenarnya bisa dikatakan broker lah yang mengeluarkan jumlah uang $100 tersebut untuk anda, sehingga anda hanya perlu mengeluarkan uang (Account deposit) untuk menanggung kerugian dan keuntungan dari transaksi $100 itu. Jadi $1 itu sebagai jaminan $100, dan sisa account laen sebagai penanggung kerugian dan keuntungan dari transaksi tersebut. Oleh karena sistem inilah trading forex modern lebih banyak diminati oleh orang dibandingkan tradisional.
Anda harus berhati-hati, karena level atau leverage bisa menjadi pedang bermata dua. Contohnya adalah:
Nah apabila anda bermain dengan $1 = $100, berarti sama dengan $1 adalah 0.1 lot, apabila uang anda ada $10 yang anda mainkan, setiap kenaikan 20pips berarti anda akan mendapatkan $20 tambahan, tetapi anda jangan lupa juga setiap penurunan 20pips anda berarti sudah mengalami kerugian minus $20, nah karena sebelumnya modal anda 10$, berarti brokers akan melakukan margin call karena uang anda tidak mencukupi! Alias uang anda hangus karena modal sudah habis hanya karena penurunan tadi.
Sekian dahulu penjelasan sedikit tentang forex, setidaknya dengan membaca dan memahami penjelasan di atas anda sudah mengerti perbedaan forex tradisional dan forex modern. untuk berikutnya saya akan mencoba menjelaskan tentang pasangan mata uang yang di perdagangkan di forex online serta cara perhitungan keuntungan dan kerugian dari forex itu sendiri. Tunggu saja.

Senin, 20 Juni 2011

CARA NGE-HACK AW$URVEYS

Saya sudah 2 kali mendapatkan pembayaran dari awsurvey, tapi dengan cara biasa tanpa hack. Nah Banyak diantara refferal saya yang mengeluhkan lama menunggu hingga $75 agar bisa payout penghasilan dari awsurvey, memang di awsurvey minimal pembayarannya adalah jika account kita telah mencapai $75, jika kurang dari itu tidak akan bisa payout. Nah sekarang hanya dengan $27 anda bisa payout tapi oleh mesin terbacanya $75. $27 itu sendiri bisa anda dapatkan secara gratis setelah bergabung dengan awsurveys, dimana anda tinggal mengisi 6 survey yang di sediakan di sana maka anda akan mendapatkan $27. waktu yang di butuhkan untuk mengerjakan 6 survey tersebut paling hanya sekitar 20-30 menit saja. Nah, sebelum saya lanjutkan tutorial cara hack awsurvey ini, sebaiknya bagi anda yang belum daftar segeralah daftar disini, gratis kok.

Ini caranya:
1. pertama tama join awsurveys dulu, isi formulir dengan benar.
2. Kemudian Selesaikanlah survey survey yang ada di sana tersebut hingga balance anda mencapai $27 atau lebih
3. Download Tamper data>> klik disini (anda harus memakai mozilla firefox)
4. setelah selesai download, masuklah ke akun awsurveys anda lagi
5. setelah itu klik “redeem money”
6. di choose amount. pilih “$75″. lalu di menu toolbar mozilla firefox. klik tools>tamper data> on,
7. kembali ke akun AWsurveys anda, klik redeem now. nah disini saatnya hack awsurveys saat anda mengklik “redeem now“. maka tamper akan muncul, dan anda bisa merubah $75 ke $25
8. setelah itu anda masuk ke bagian informasi, masukkan e-mail paypal anda, dan informasi lainnya
9. lalu setelah anda memasukkan informasi2. dan klik pembayaran. lagi2 tamper akan muncul.
10.di tamper tersebut.. rubahlah “$25″ ke “$75″… selesai
11. Disini kita bisa mendapatkan $75 dengan mengorbankan $27 tersebut, dari pada capek capek cari refferal mendingan coba cara ini bukan?

SELAMAT MENCOBA

NB: Bagi anda yang belum punya akun paypal silahkan daftar disini

Selasa, 14 Juni 2011

Mutiara Cinta

 Kita masing-masing adalah malaikat bersayap satu,yang hanya bisa terbang bila kita saling berpelukan.

 Tak ada kejutan yang lebih menyenangkan daripada mengetahui diam-diam kita di cintai.

 Kau tidak akan menyadari hadirnya orang yang benar-benar mencintaimu telah menunggumu lama di sampingmu,saat kau terbuai oleh amarah dan egoismu. Tapi kau baru akan menyadarinya saat dia sudah tak disisimu lagi ataupun sudah tak lagi mengharapmu.

 Terkadang cinta ataupun rasa sayang harus di ucapkan dengan kata-kata,karena hanya dengan begitu orang yang kita sayangi akan tahu kalau kita benar-benar cinta.

 Andai jemarimu tak dapat kuraih,aku ingin menyentuh bayangmu. Andai hatimu tak mampu ku genggam,aku ingin menjadi nafasmu,agar hadirku selalu berarti bagimu.

 Cinta yang hadir karena keadaan,itu bukan cinta melainkan keterpaksaan. Dan biasanya keterpaksaan akan meninggalkan sesuatu yang sangat menyakitkan.

 Terkadang cinta sejati hadir tanpa kita sadari,dan baru kita sadari saat dia telah beranjak pergi.

 Cinta itu suci,sebenarnya. Tapi banyak yang menggunakan cinta sekedar sebagai kedok penutup nafsu belaka.

 Cinta tidak mudah dimengerti. Terkadang bagai ilusi,terkadang seperti mimpi. Tapi orang yang mencintai dengan hati,cintanya akan terus bersemi. Seperti mentari yang nyalanya selalu memberikan kehangatan dan tak pernah padam.

 Aku gak mau cintaku seperti batang korek api,yang nyalanya hanya sebentar,untuk kemudian padam dan menyisakan kayu yang terbakar menghitam.

SEPERTI ADAM DAN HAWA

##########################################################################

Tuhan,,,
Dialah nafasku...
Dialah ragaku...
Dialah wanita dimana t'lah tertanam tulang rusuk ku...
Dengan nafasnya aku hidup,
Dengan mata hatinya aku melihat dunia...
Tolong satu kan kami selamanya,
Dalam jalan-Mu,
Dalam ridho-Mu...
Seperti bulan dan bintang,
Seperti adam dan hawa...
Biarkan kasih sayang kami kekal abadi
Jangan pisahkan aku dari dirinya
Karena ku sangat menyayanginya...
Namun kini dia t'lah tiada entah dimana berada
Tapi...
Kan slalu ku sebut namanya dalam setiap do'aq
Kan ku panjatkan do'a tuk'nya dalam setiap sujudku,
Agar senyuman itu selalu menghiasi wajah manisnya...
Agar hari - hari biru selalu menyertainya...

Dialah bidadari,
Dalam hidup dan mati,
Dalam sadar ataupun mimpi,
Takkan pernah terganti,
Biarpun aku harus terus menanti,
Biarpun aku harus terus mencari,
Biarpun harus ku ulang dan ku ulang lagi,
Sampai jasadku tak mampu tuk bangkit lagi..
Aku tak perduli
Karena cintaku telah memprasasti,
Karena cintaku ini cinta mati....
Tak renta di makan usia,
Dan waktupun ta'kan mampu mengikisnya..

Tuhan,,,
Dengarlah, dan kabulkan do'aku ini...
Kembalikan dia kesisiku lagi,
Disini, dalam hati...
Agar dia selalu menemani,
Hingga tubuhku tak bernyawa lagi...
Amien...


-< IBHE LANDUNG SAMUDERA >-

##########################################################################

Senin, 13 Juni 2011

. . . . T H A N K . . . Y O U . . . .





when i'm weary, you gave me strength and always being by my side...
now, i can only say thank you...
and because there's you, that's why i'm happy... :)
the day that the tears come, flowing down again before it dries up
u held my hand in the dark, wihtout a word u watched over me..thank you
u must have had a harder time than i did.. u must have worried more than i did...
because there's u, that's why i'm able to stand again...
my heart had always been thankful
there was so much u wanted to give me...
and u struggled knowing u couldn't with this harsh reality...
believe me, take my hand, as long as we are together i feel like anything can be done...
we'll be able to make it, forever

Minggu, 12 Juni 2011

KETIKA AKU TELAH RENTA

Ketika aku sudah tua, bukan lagi aku yang semula.
Mengertilah, bersabarlah sedikit terhadap aku……
Ketika pakaianku terciprat sup, ketika aku lupa bagaimana mengikat sepatu, ingatlah bagaimana dahulu aku mengajarmu.

Ketika aku berulang-ulang berkata-kata tentang sesuatu yang telah
bosan kau dengar, bersabarlah mendengarkan, jangan memutus pembicaraanku.
Ketika kau kecil, aku selalu harus mengulang cerita yang telah
beribu-ribu kali kuceritakan agar kau tidur.

Ketika aku memerlukanmu untuk memandikanku, jangan marah padaku.
Ingatkah sewaktu kecil aku harus memakai segala cara untuk membujukmu
mandi?

Ketika aku tak paham sedikitpun tentang tehnologi dan hal-hal baru,
jangan mengejekku.
Pikirkan bagaimana dahulu aku begitu sabar menjawab setiap “mengapa”
darimu.

Ketika aku tak dapat berjalan, ulurkan tanganmu yang masih kuat untuk
memapahku.
Seperti aku memapahmu saat kau belajar berjalan waktu masih kecil.
Ketika aku seketika melupakan pembicaraan kita, berilah aku waktu untuk mengingat.

Sebenarnya bagiku, apa yang dibicarakan tidaklah penting, asalkan kau
di samping mendengarkan, aku sudah sangat puas.

Ketika kau memandang aku yang mulai menua, janganlah berduka.
Mengertilah aku, dukung aku, seperti aku menghadapimu ketika kamu
mulai belajar menjalani kehidupan.
Waktu itu aku memberi petunjuk bagaimana menjalani kehidupan ini,
sekarang temani aku menjalankan sisa hidupku.

Beri aku cintamu dan kesabaran, aku akan memberikan senyum penuh
rasa syukur, dalam senyum ini terdapat cintaku yang tak terhingga
untukmu.

Pesan:
Hormati Ayah dan Ibumu sebelum mereka meninggalkan anda dengan kedukaan yang mendalam.

SEBUAH PELAJARAN : PEMUDA YANG GELISAH

Dari pinggir kaca nako, di antara celah kain gorden, saya melihat lelaki itu mondar-mandir di depan rumah. Matanya berkali-kali melihat ke rumah saya.Tangannya yang dimasukkan ke saku celana, sesekali mengelap keringat di keningnya. Dada saya berdebar menyaksikannya.

Apa maksud remaja yang bisa jadi umurnya tak jauh dengan anak sulung saya yang baru kelas 2 SMU itu? Melihat tingkah lakunya yang gelisah, tidakkah dia punya maksud buruk dengan keluarga saya? Mau merampok? Bukankah sekarang ini orang merampok tidak lagi mengenal waktu? Siang hari saat orang-orang lalu-lalang pun penodong bisa beraksi, seperti yang banyak diberitakan koran. Atau dia punya masalah dengan Yudi, anak saya? Kenakalan remaja saat ini tidak lagi enteng. Tawuran telah menjadikan puluhan remaja meninggal.

Saya berdoa semoga lamunan itu salah semua. Tapi mengingat peristiwa buruk itu bisa saja terjadi, saya mengunci seluruh pintu dan jendela rumah. Di rumah ini, pukul sepuluh pagi seperti ini,saya hanya seorang diri. Kang Yayan, suami saya, ke kantor. Yudi sekolah, Yuni yang sekolah sore pergi les Inggris, dan Bi Nia sudah seminggu tidak masuk. Jadi kalau lelaki yang selalu memperhatikan rumah saya itu menodong, saya bisa apa? Pintu pagar rumah memang terbuka. Siapa saja bisa masuk. Tapi mengapa anak muda itu tidak juga masuk? Tidakkah dia menunggu sampai tidak ada orang yang memergoki? Saya sedikit lega saat anak muda itu berdiri di samping tiang telepon.

Saya punya pikiran lain.

Mungkin dia sedang menunggu seseorang, pacarnya, temannya, adiknya, atau siapa saja yang janjian untuk bertemu di tiang telepon itu. Saya memang tidak mesti berburuk sangka seperti tadi. Tapi dizaman ini, dengan peristiwa-peristiwa buruk, tenggang rasa yang semakin menghilang, tidakkah rasa curiga lebih baik daripada lengah? Saya masih tidak beranjak dari persembunyian, di antara kain gorden, di samping kaca nako. Saya masih was-was karena anak muda itu sesekali masih melihat ke rumah.

Apa maksudnya?

Ah, bukankah banyak pertanyaan di dunia ini yang tidak ada jawabannya. Terlintas di pikiran saya untuk menelepon tetangga. Tapi saya takut jadi ramai. Bisa-bisa penduduk se-kompleks mendatangi anak muda itu. Iya kalau anak itu ditanya-tanya secara baik, coba kalau belum apa-apa ada yang memukul. Tiba-tiba anak muda itu membalikkan badan dan masuk ke halaman rumah. Debaran jantung saya mengencang kembali. Saya memang mengidap penyakit jantung. Tekad saya untuk menelepon tetangga sudah bulat, tapi kaki saya tidak bisa melangkah.

Apalagi begitu anak muda itu mendekat, saya ingat, saya pernah melihatnya dan punya pengalaman buruk dengannya. Tapi anak muda itu tidak lama di teras rumah. Dia hanya memasukkan sesuatu ke celah di atas pintu dan bergegas pergi. Saya masih belum bisa mengambil benda itu karena kaki saya masih lemas.

* * *

Saya pernah melihat anak muda yang gelisah itu di jembatan penyeberangan, entah seminggu atau duaminggu yang lalu. Saya pulang membeli bumbu kue waktu itu. Tiba-tiba di atas jembatan penyeberangan, saya ada yang menabrak, saya hampir jatuh. Si penabrak yang tidak lain adalah anak muda yang gelisah dan mondar-mandir di depan rumah itu, meminta maaf dan bergegas mendahului saya. Saya jengkel, apalagi begitu sampai di rumah saya tahu dompet yang disimpan di kantong plastik, disatukan dengan bumbu kue, telah raib.

Dan hari ini, lelaki yang gelisah dan si penabrak yang mencopet itu, mengembalikan dompet saya lewat celah di atas pintu. Setelah saya periksa, uang tiga ratus ribu lebih, cincin emas yang selalu saya simpan di dompet bila bepergian, dan surat-surat penting, tidak ada yang berkurang. Lama saya melihat dompet itu dan melamun. Seperti dalam dongeng. Seorang anak muda yang gelisah, yang siapa pun saya pikir akan mencurigainya, dalam situasi perekonomian yang morat-marit seperti ini, mengembalikan uang yang telah digenggamnya.

Bukankah itu ajaib, seperti dalam dongeng. Atau hidup ini memang tak lebih dari sebuah dongengan? Bersama dompet yang dimasukkan ke kantong plastik hitam itu saya menemukan surat yang dilipat tidak rapi. Saya baca surat yang berhari-hari kemudian tidak lepas dari pikiran dan hati saya itu.

Isinya seperti ini:
“Ibu yang baik, maafkan saya telah mengambil dompet Ibu. Tadinya saya mau mengembalikan dompet Ibu saja, tapi saya tidak punya tempat untuk mengadu, maka saya tulis surat ini, semoga Ibu mau membacanya. Sudah tiga bulan saya berhenti sekolah. Bapak saya di-PHK dan tidak mampu membayar uang SPP yang berbulan-bulan sudah nunggak, membeli alat-alat sekolah dan memberi ongkos.

Karena kemampuan keluarga yang minim itu saya berpikir tidak apa-apa saya sekolah sampai kelas 2 STM saja. Tapi yang membuat saya sakit hati, Bapak kemudian sering mabuk dan judi buntut yang beredar sembunyi-sembunyi itu. Adik saya yang tiga orang, semuanya keluar sekolah. Emak berjualan goreng-gorengan yang dititipkan di warung-warung. Adik-adik saya membantu mengantarkannya. Saya berjualan koran, membantu-bantu untuk beli beras.

Saya sadar, kalau keadaan seperti ini, saya harus berjuang lebih keras. Saya mau melakukannya. Dari pagi sampai malam saya bekerja. Tidak saja jualan koran, saya juga membantu nyuci piring di warung nasi dan kadang (sambil hiburan) saya ngamen. Tapi uang yang pas-pasan itu (Emak sering gagal belajar menabung dan saya maklum), masih juga diminta Bapak untuk memasang judi kupon gelap. Bilangnya nanti juga diganti kalau angka tebakannya tepat.

Selama ini belum pernah tebakan Bapak tepat. Lagi pula Emak yang taat beribadah itu tidak akan mau menerima uang dari hasil judi, saya yakin itu. Ketika Bapak semakin sering meminta uang kepada Emak, kadang sambil marah-marah dan memukul, saya tidak kuat untuk diam. Saya mengusir Bapak. Dan begitu Bapak memukul, saya membalasnya sampai Bapak terjatuh-jatuh. Emak memarahi saya sebagai anak laknat. Saya sakit hati. Saya bingung. Mesti bagaimana saya? Saat Emak sakit dan Bapak semakin menjadi dengan judi buntutnya, sakit hati saya semakin menggumpal, tapi saya tidak tahu sakit hati oleh siapa.

Hanya untuk membawa Emak ke dokter saja saya tidak sanggup. Bapak yang semakin sering tidur entah di mana, tidak perduli. Hampir saya memukulnya lagi. Di jalan, saat saya jualan koran, saya sering merasa punya dendam yang besar tapi tidak tahu dendam oleh siapa dan karena apa. Emak tidak bisa ke dokter. Tapi orang lain bisa dengan mobil mewah melenggang begitu saja di depan saya, sesekali bertelepon dengan handphone. Dan di seberang stopan itu, di warung jajan bertingkat, orang-orang mengeluarkan ratusan ribu untuk sekali makan. Maka tekad saya, Emak harus ke dokter. Karena dari jualan koran tidak cukup, saya merencanakan untuk mencopet.

Berhari-hari saya mengikuti bus kota, tapi saya tidak pernah berani menggerayangi saku orang. Keringat dingin malah membasahi baju. Saya gagal jadi pencopet. Dan begitu saya melihat orang-orang belanja di toko, saya melihat Ibu memasukkan dompet ke kantong plastik. Maka saya ikuti Ibu. Di atas jembatan penyeberangan, saya pura-pura menabrak Ibu dan cepat mengambil dompet. Saya gembira ketika mendapatkan uang 300 ribu lebih. Saya segera mendatangi Emak dan mengajaknya ke dokter.

Tapi Ibu, Emak malah menatap saya tajam. Dia menanyakan, dari mana saya dapat uang. Saya sebenarnya ingin mengatakan bahwa itu tabungan saya, atau meminjam dari teman. Tapi saya tidak bisa berbohong. Saya mengatakan sejujurnya, Emak mengalihkan pandangannya begitu saya selesai bercerita.

Di pipi keriputnya mengalir butir-butir air. Emak menangis. Ibu, tidak pernah saya merasakan kebingungan seperti ini. Saya ingin berteriak. Sekeras-kerasnya. Sepuas-puasnya. Dengan uang 300 ribu lebih sebenarnya saya bisa makan-makan, mabuk, hura-hura. Tidak apa saya jadi pencuri. Tidak perduli dengan Ibu, dengan orang-orang yang kehilangan. Karena orang-orang pun tidak perduli kepada saya. Tapi saya tidak bisa melakukannya. Saya harus mengembalikan dompet Ibu. Maaf.”

Surat tanpa tanda tangan itu berulang kali saya baca. Berhari-hari saya mencari-cari anak muda yang bingung dan gelisah itu. Di setiap stopan tempat puluhan anak-anak berdagang dan mengamen. Dalam bus-bus kota. Di taman-taman. Tapi anak muda itu tidak pernah kelihatan lagi. Siapapun yang berada di stopan, tidak mengenal anak muda itu ketika saya menanyakannya.

Lelah mencari, di bawah pohon rindang, saya membaca dan membaca lagi surat dari pencopet itu. Surat sederhana itu membuat saya tidak tenang. Ada sesuatu yang mempengaruhi pikiran dan perasaan saya. Saya tidak lagi silau dengan segala kemewahan. Ketika Kang Yayan membawa hadiah-hadiah istimewa sepulang kunjungannya ke luar kota, saya tidak segembira biasanya.Saya malah mengusulkan oleh-oleh yang biasa saja. Kang Yayan dan kedua anak saya mungkin aneh dengan sikap saya akhir-akhir ini.

Tapi mau bagaimana, hati saya tidak bisa lagi menikmati kemewahan. Tidak ada lagi keinginan saya untuk makan di tempat-tempat yang harganya ratusan ribu sekali makan, baju-baju merk terkenal seharga jutaan, dan sebagainya. Saya menolaknya meski Kang Yayan bilang tidak apa sekali-sekali. Saat saya ulang tahun, Kang Yayan menawarkan untuk merayakan di mana saja. Tapi saya ingin memasak di rumah, membuat makanan, dengan tangan saya sendiri.

Dan siangnya, dengan dibantu Bi Nia, lebih seratus bungkus nasi saya bikin. Diantar Kang Yayan dan kedua anak saya, nasi-nasi bungkus dibagikan kepada para pengemis, para pedagang asongan dan pengamen yang banyak di setiap stopan. Di stopan terakhir yang kami kunjungi, saya mengajak Kang Yayan dan kedua anak saya untuk makan bersama. Diam-diam air mata mengalir di mata saya.

Yuni menghampiri saya dan bilang, “Mama, saya bangga jadi anak Mama.”

Dan saya ingin menjadi Mama bagi ribuan anak-anak lainnya.